Fenomena “Pick Me” di Kalangan Pelajar: Kenali Penyebab, Dampak, dan Pengaruhnya bagi Siswa SMK

Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata, “Aku tuh beda banget dari anak-anak lain yang suka nongkrong, aku lebih suka di rumah baca buku,” dengan nada merendahkan orang lain? Atau mungkin kamu sering melihat istilah “Pick Me” berseliweran di TikTok dan Instagram?

Di era media sosial saat ini, bahasa gaul terus berkembang, dan salah satu yang paling populer adalah sebutan Pick Me Girl atau Pick Me Boy. Namun, tahukah kamu apa makna sebenarnya di balik istilah ini dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan sosial kita, khususnya sebagai siswa SMK? Yuk, kita bahas tuntas!

Apa Itu “Pick Me”?

Secara sederhana, Pick Me merujuk pada seseorang yang berusaha keras—bahkan hingga merendahkan orang lain yang satu gender dengannya—hanya untuk terlihat berbeda, spesial, atau lebih superior demi mendapatkan validasi dari lawan jenis atau kelompok tertentu.

Sikap ini sering ditandai dengan kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain secara negatif. Misalnya, seorang Pick Me Girl mungkin akan menjelek-jelekkan perempuan lain yang suka makeup agar dirinya yang “tampil natural” terlihat lebih baik di mata laki-laki.


Mengapa Seseorang Bisa Menjadi “Pick Me”? (Penyebab)

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang memicu seseorang memiliki sifat pick me, antara lain:

  • Krisis Kepercayaan Diri (Insecurity): Banyak remaja yang merasa kurang percaya diri dengan identitas aslinya. Merendahkan orang lain menjadi jalan pintas bagi mereka untuk merasa lebih tinggi dan berharga.
  • Haus Validasi: Di usia remaja, keinginan untuk diakui, disukai, dan diterima sangatlah besar. Mereka merasa harus “berbeda” agar bisa stand out atau diperhatikan.
  • Pengaruh Media Sosial: Tontonan di internet sering kali tanpa sadar menormalisasi persaingan tidak sehat antar sesama remaja untuk memperebutkan perhatian, menciptakan standar ganda yang beracun.

Dampak Sikap “Pick Me” dalam Kehidupan Sosial

Menjadi seorang pick me mungkin awalnya terasa memuaskan karena mendapat perhatian sesaat. Namun, dampak jangka panjangnya justru sangat merugikan:

  • Dijauhi oleh Teman Sebaya: Tidak ada orang yang suka direndahkan. Sikap pick me akan membuat seseorang kehilangan teman sejati karena lingkungan menganggapnya toxic dan tidak bisa dipercaya.
  • Kehilangan Jati Diri Asli: Karena terlalu sibuk merangkai persona palsu agar terlihat “berbeda”, seseorang bisa lupa pada minat, bakat, dan karakter aslinya sendiri.
  • Memicu Bullying dan Konflik: Kebiasaan menyindir atau merendahkan kelompok lain sangat rentan memicu pertengkaran dan merusak kerukunan di lingkungan sekolah.

Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Siswa SMK

Sebagai siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kita dipersiapkan untuk menjadi generasi yang siap kerja, mandiri, dan profesional. Sikap pick me sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dibutuhkan di dunia industri dan usaha. Berikut adalah pengaruh buruknya jika budaya ini dibiarkan di lingkungan SMK:

  1. Merusak Teamwork (Kerja Sama Tim): Di dunia kerja maupun saat Praktik Kerja Lapangan (PKL), kolaborasi adalah kunci. Orang dengan sifat pick me cenderung egois dan sulit diajak bekerja sama karena selalu ingin terlihat paling menonjol dengan menjatuhkan rekan setimnya.
  2. Menghambat Pengembangan Soft Skill: Siswa SMK dituntut memiliki etika profesional, empati, dan komunikasi yang baik. Sikap pick me justru menumbuhkan kesombongan dan hilangnya rasa hormat (respect) terhadap rekan sejawat.
  3. Fokus yang Salah Arah: Alih-alih sibuk mengasah hard skill (kompetensi kejuruan) di bengkel, lab, atau dapur praktik, energi justru habis terkuras untuk mencari sensasi dan validasi sosial yang tidak ada manfaatnya untuk masa depan.

Catatan Penting: Dunia kerja dan industri tidak mencari karyawan yang “paling beda karena suka merendahkan orang lain”. Mereka mencari individu yang kompeten, berkarakter baik, dan bisa mengangkat performa tim secara bersama-sama.

Kesimpulan

Menjadi berbeda itu wajar dan indah, asalkan dilakukan dengan cara yang positif tanpa harus menjatuhkan orang lain. Sebagai siswa SMK yang cerdas dan berkarakter, mari kita hentikan budaya pick me. Validasi terbaik tidak datang dari pujian lawan jenis karena kita menjelekkan teman sendiri, melainkan dari prestasi, karya, dan kebaikan hati yang kita bagikan.

Yuk, jadilah diri sendiri secara autentik! Fokuslah pada passion-mu, asah kompetensimu, dan dukung satu sama lain untuk menjadi lulusan SMK yang hebat. Stop tearing each other down, let’s lift each other up! (Hsone)

Semangat Kartini Modern: Guru Perempuan SMKN 1 Jenar Jadi Petugas Upacara Peringatan Hari Kartini 2026

Jenar, Sragen – Rabu, 22 April 2026 – Suasana khidmat menyelimuti lapangan utama SMK Negeri 1 Jenar pada Selasa pagi, 21 April 2026. Lembaga pendidikan kejuruan ini menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kartini, sebuah momentum untuk mengenang perjuangan pahlawan emansipasi wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

Upacara yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi kelas X dan XI. Ada pemandangan yang berbeda dari upacara biasanya; seluruh petugas upacara—mulai dari pemimpin upacara, pengibar bendera, hingga pembaca pembukaan UUD 1945— dilakukan oleh Srikandi – Srikandi yakni Ibu-ibu guru SMK Negeri 1 Jenar. Dengan balutan busana tradisional yang anggun namun tetap sigap, para guru menunjukkan dedikasi dan semangat Kartini di hadapan para siswa.

Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Kepala SMK Negeri 1 Jenar, Viva Fauziyah Suryani, S.Pd. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai relevansi perjuangan Kartini di era modern, khususnya bagi generasi muda yang tengah menempuh pendidikan vokasi.

“Hari Kartini bukan sekadar tentang mengenakan pakaian adat, tetapi tentang mewarisi api semangat juang untuk terus belajar dan berkarya. Bagi siswi SMK, kalian adalah calon tenaga kerja profesional dan wirausaha masa depan. Jangan pernah ragu untuk bermimpi setinggi langit karena pendidikan adalah kunci kemandirian,” ujar Viva Fauziyah Suryani di hadapan para peserta upacara.

Beliau juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru perempuan yang telah sukses menjalankan tugas sebagai petugas upacara. Hal ini, menurutnya, merupakan simbol nyata bahwa perempuan mampu mengemban tanggung jawab dalam berbagai peran kepemimpinan.

Meskipun siswa kelas XII tidak hadir karena sedang fokus pada agenda pasca-ujian, antusiasme siswa kelas X dan XI tetap tinggi. Banyak dari mereka yang mengenakan batik dan pakaian tradisional, menambah nuansa budaya dalam peringatan tahun ini.

Peringatan Hari Kartini di SMK Negeri 1 Jenar tahun 2026 ini diharapkan dapat memperkuat karakter para siswa, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan, kerja keras, dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan bangsa. Upacara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama antara guru dan staf sebagai simbol harmoni keluarga besar SMK Negeri 1 Jenar. (Hsone)

Gandeng BNN hingga TNI-Polri, SSB dan Pawasri Gelar Sosialisasi Anti-Bullying dan Narkoba di SMK Negeri 1 Jenar

Jenar, Sragen – Kamis, 16 April 2026 – Komunitas Sedulur Sragen Bersatu (SSB) bekerja sama dengan Paguyuban Wong Sragen Asri (Pawasri) menunjukkan kepedulian nyata terhadap masa depan generasi muda di Kabupaten Sragen. Pada Selasa (14/4/2026), kedua komunitas ini menggelar sosialisasi intensif mengenai bahaya bullying (perundungan) dan narkoba di SMK Negeri 1 Jenar.

Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut diikuti dengan antusias oleh ratusan siswa kelas X dan XI. Dengan mengusung tema “Bersama Kita Bisa Mencegah Bullying dan Narkoba, Satukan Tekad Menuju Indonesia Emas 2025,” acara ini menghadirkan panel narasumber kompeten dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surakarta, unsur TNI-Polri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta jajaran Forkopimca Jenar.

Respons Atas Tragedi Perundungan

Pembina SSB, Agung Purnomo, menjelaskan bahwa inisiasi kegiatan ini berangkat dari keprihatinan mendalam atas kasus perundungan di salah satu SMP di Sragen yang beberapa waktu lalu hingga memakan korban jiwa. Peristiwa tragis tersebut dinilai menjadi alarm keras bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian kami. Peristiwa (bullying) tersebut menjadi perhatian serius. Namun, kami menyadari komunitas masyarakat memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh siswa di Sragen, sehingga peran aktif pemerintah sangat kami butuhkan,” ungkap Agung.

Darurat Narkoba di Usia Produktif

Senada dengan hal tersebut, Kepala BNN Kota Surakarta, Kombes Pol Ventie Bernard Musak, menyoroti tren penyalahgunaan narkoba yang kian mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa target peredaran barang haram tersebut kini menyasar usia produktif, bahkan anak-anak di bawah usia 17 tahun.

Dalam arahannya, Kombes Pol Ventie menekankan dua poin krusial:

  1. Peran Orang Tua: Pengawasan dan pendampingan di lingkungan keluarga adalah benteng pertahanan utama.
  2. Keterbukaan Sekolah: Ia meminta pihak sekolah untuk bersikap transparan jika ditemukan indikasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pendidikan.

“Kami meminta pihak sekolah tidak menutup-nutupi jika terdapat kasus penyalahgunaan narkoba. Tujuannya agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tidak meluas,” tegasnya.

Apresiasi Pihak Sekolah

Kepala SMKN 1 Jenar, Viva Fauziyah Suryani, S.Pd., menyambut hangat kehadiran komunitas SSB, Pawasri, dan para narasumber. Menurutnya, pemahaman mengenai aspek hukum dan dampak psikologis dari perundungan maupun narkoba harus ditanamkan sejak dini agar siswa tidak terjebak dalam lingkaran negatif.

“Sosialisasi ini sangat penting bagi anak didik kami. Dengan memahami bahaya perundungan dan narkoba sejak awal, kami berharap siswa SMKN 1 Jenar dapat fokus pada prestasi dan pengembangan diri mereka,” ujar Viva.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara komunitas, aparat penegak hukum, dan institusi pendidikan dapat terus diperkuat demi menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan maupun narkotika. (Hsone)

Semarak Ramadan: Kolaborasi OSIS, BANTARA, dan ROHIS SMKN 1 Jenar Tebar Kebaikan Lewat Berbagi Takjil

Jenar, Sragen – Jumat, 13 Maret 2026 – Suasana sore di sepanjang jalan depan SMK Negeri 1 Jenar tampak berbeda pada Kamis, 12 Maret 2026. Puluhan siswa yang tergabung dalam organisasi OSIS, BANTARA, dan ROHIS turun ke jalan untuk menggelar aksi sosial bertajuk “Berbagi Takjil”.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 16.30 WIB ini menyasar para pengguna jalan, mulai dari pengendara motor hingga warga sekitar yang melintas di depan gerbang sekolah. Dengan senyum ramah, para siswa membagikan paket takjil sebagai bentuk kepedulian sosial di bulan suci Ramadan.

Wujudkan Generasi Berkarakter

Kegiatan kolaborasi tiga organisasi besar di SMKN 1 Jenar ini mengusung tema yang mendalam, yakni: “Mewujudkan generasi SMK Negeri 1 Jenar yang berkarakter, peduli dan berbagi di bulan Suci”.

Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan misi sekolah untuk membentuk mentalitas siswa agar tidak hanya unggul secara akademis dan keterampilan, tetapi juga memiliki empati yang tinggi terhadap sesama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda, khususnya siswa SMK Negeri 1 Jenar, memiliki jiwa sosial yang kuat. Melalui kolaborasi OSIS, BANTARA, dan ROHIS, kami belajar bahwa berbagi itu indah dan mempererat tali silaturahmi,” ujar salah satu perwakilan panitia di sela-sela kegiatan.

Antusiasme Warga

Aksi ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Arus lalu lintas yang biasanya padat saat jam pulang kerja terasa lebih sejuk dengan adanya pembagian takjil gratis ini. Warga mengapresiasi inisiatif para siswa yang mengisi waktu luang di bulan Ramadan dengan kegiatan positif.

Selain pembagian takjil, kegiatan ini juga menjadi ajang bagi anggota BANTARA untuk melatih kedisiplinan lapangan, ROHIS dalam pendalaman nilai spiritual, serta OSIS sebagai motor penggerak manajerial kegiatan.

Harapan ke Depan

Pihak sekolah berharap kegiatan semacam ini dapat terus menjadi tradisi tahunan. Dengan adanya sinergi antar-organisasi kesiswaan, diharapkan muncul bibit-bibit pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesalehan sosial yang tinggi. (Hsone)

Estafet Kepemimpinan: SMK Negeri 1 Jenar Gelar Pisah Sambut Kepala Sekolah Baru

Jenar, Sragen – Selasa, 10 Maret 2026 – Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Ruang Meeting SMK Negeri 1 Jenar pada Selasa, 10 Maret 2026. Sekolah ini resmi menggelar acara Lepas Sambut Kepala Sekolah untuk menandai transisi kepemimpinan dari pejabat lama kepada pejabat baru yang akan membawa visi baru bagi sekolah tersebut.

Acara ini menandai berakhirnya masa tugas Bapak Fahmi Khoiruman, S.P., M.T., yang sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMK Negeri 1 Jenar. Estafet kepemimpinan kini resmi diteruskan oleh Ibu Viva Fauziyah Suryani, S.Pd., sebagai Kepala Sekolah definitif.

Babak Baru bagi SMK Negeri 1 Jenar

Ibu Viva Fauziyah Suryani bukanlah sosok baru dalam dunia pendidikan di Kabupaten Sragen. Sebelum mendapatkan tugas baru ini, beliau merupakan guru yang berdedikasi di SMK Negeri 1 Kalijambe. Terhitung sejak tanggal 3 Maret 2026, beliau resmi menerima amanah untuk memimpin SMK Negeri 1 Jenar dan berkomitmen untuk melanjutkan serta meningkatkan prestasi yang telah diraih sekolah selama ini.

Dalam sambutannya, Bapak Fahmi Khoiruman menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh keluarga besar SMK Negeri 1 Jenar atas kerja sama dan dukungan yang diberikan selama masa transisi kepemimpinannya.

“Tugas sebagai Plt adalah menjaga agar roda organisasi tetap berjalan dengan baik. Saya yakin, di bawah kepemimpinan Ibu Viva sebagai kepala sekolah definitif, SMK Negeri 1 Jenar akan terbang lebih tinggi dengan inovasi-inovasi baru,” ujar Bapak Fahmi.

Visi dan Kolaborasi

Sementara itu, Ibu Viva Fauziyah Suryani dalam pidato perdananya sebagai Kepala Sekolah mengungkapkan rasa syukur dan harapannya. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi antar semua lini, mulai dari guru, staf, hingga komite sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang unggul bagi siswa.

“Tugas ini adalah amanah besar. Saya berharap kita dapat bersinergi bersama untuk menjadikan SMK Negeri 1 Jenar sebagai sekolah yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten, tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” tegas Ibu Viva.

Acara yang berlangsung dengan lancar ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan ramah tamah antara guru, staf, serta tamu undangan yang hadir. Kehadiran pemimpin baru ini membawa harapan besar bagi masyarakat Jenar akan peningkatan kualitas pendidikan vokasi di wilayah tersebut. (hsone)

Bentuk Karakter Pemimpin Tangguh, OSIS SMK Negeri 1 Jenar Gelar LDK di Taharu Mangkunegoro

Jenar, Sragen – Rabu, 25 Februari 2026 — Dalam rangka menyiapkan estafet kepemimpinan yang solid dan berkarakter, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMK Negeri 1 Jenar sukses menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi pengurus baru Masa Bakti 2025/2026.

Kegiatan yang dirancang untuk menggembleng mental dan kedisiplinan siswa ini berlangsung selama dua hari, yakni pada hari Jumat hingga Sabtu, 13 – 14 Februari 2026. Menariknya, LDK kali ini mengambil tempat di kawasan yang asri dan bernilai sejarah, yaitu di Taharu KGPAA Mangkunegoro, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan/OSIS, Bapak Sutopo, S.T. Dalam sambutan pembukaannya, beliau berpesan agar para peserta LDK dapat menyerap ilmu yang diberikan dengan maksimal. Beliau menekankan bahwa pengurus OSIS adalah agen perubahan di sekolah yang harus memiliki integritas, tanggung jawab, serta mampu menjadi teladan yang baik bagi siswa-siswi lainnya.

Guna memaksimalkan pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta, SMK Negeri 1 Jenar turut menggandeng Koramil Kecamatan Jenar. Keterlibatan personel dari Koramil ini memberikan warna tersendiri dalam kegiatan LDK. Para prajurit TNI tersebut memberikan materi pembinaan fisik, Pelatihan Baris-Berbaris (PBB), wawasan kebangsaan, serta kepemimpinan lapangan yang menuntut kerja sama tim (teamwork) yang tinggi.

Pemilihan lokasi di kawasan Taharu KGPAA Mangkunegoro di Ngargoyoso yang berada di lereng Gunung Lawu juga dinilai sangat tepat. Suasana alam yang sejuk dan medan yang menantang sangat mendukung jalannya kegiatan outbound dan materi kepemimpinan, sehingga siswa bisa belajar langsung dari alam sekaligus melatih ketahanan fisik mereka.

Melalui kegiatan LDK ini, diharapkan pengurus OSIS SMK Negeri 1 Jenar Masa Bakti 2025/2026 tidak hanya unggul dalam bidang akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, jiwa korsa, dan kecerdasan emosional dalam menjalankan roda organisasi ke depannya. (hsone)

Tembus Panggung Bergengsi, Karya Busana SMK Negeri 1 Jenar Pukau Pengunjung Jogja Fashion Revival

Jenar, Sragen – Minggu,4 Januari 2026 – Kreasi busana karya siswa-siswi SMK Negeri 1 Jenar, Kabupaten Sragen, sukses mencuri perhatian publik dalam ajang fashion bergengsi, Jogja Fashion Revival. Acara tersebut digelar dengan meriah di Atrium Sleman City Hall (SCH), Yogyakarta, pada Sabtu (3/1/2026).

Partisipasi ini menjadi bukti nyata bahwa kualitas pendidikan vokasi di daerah, khususnya di wilayah Sragen, mampu bersaing di level regional maupun nasional.

Hasil Kolaborasi dan Kreativitas Siswa

Koleksi yang ditampilkan merupakan karya orisinal dari Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana SMK Negeri 1 Jenar. Desain-desain yang dibawakan mencerminkan perpaduan antara tren modern dengan sentuhan etnik yang unik, serta motif batik bernuasa kearifan lokal menunjukkan keindahan serta kematangan teknik menjahit dan pemilihan bahan yang berkualitas.

Keberhasilan ini tidak lepas dari bimbingan intensif para guru produktif di SMK Negeri 1 Jenar. Di bawah komando Ibu Lilik Puji Handayani, S.Pd., selaku Kepala Program Busana, tim guru pendamping terus memotivasi untuk berinovasi dan berani menampilkan karya di luar lingkungan sekolah.

“Ajang ini adalah wadah untuk merasakan langsung atmosfer industri fashion yang sebenarnya. Kami sangat bangga melihat karya SMK Negeri 1 Jenar bersanding dengan desainer-desainer lainnya,”.

Membangun Mentalitas Profesional

Kehadiran SMK Negeri 1 Jenar di Jogja Fashion Revival bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri serta memperluas jejaring di dunia industri kreatif. Selain menampilkan estetika, karya-karya ini juga menonjolkan aspek ready-to-wear yang memiliki nilai jual tinggi.

Dengan partisipasi ini, diharapkan SMK Negeri 1 Jenar semakin dikenal sebagai sekolah yang konsisten mencetak talenta-talenta muda berbakat di bidang fashion, sekaligus mengukuhkan posisi Sragen sebagai daerah yang potensial dalam pengembangan industri kreatif busana. (Hsone)